BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Rabu, 22 Februari 2012

Dan Mati...

Cinta itu bagaikan benih
Yang tersemai, terpendam, tumbuh, bersemi, lalu gugur, dan mati
Dan seandainya ceritaku bisa berakhir sesempurna itu
Kuharap rasa ini segera berakhir
Mencapai sebuah titik dimana tak bisa bersemai kembali
Mencapai sebuah titik dimana tak bisa tumbuh semakin baik
Mencapai sebuah titik yang dinamakan MATI
Dan segera kurengkuh damaiku sendiri

I'm Not That Deaf

Aku tidak tuli atau bisu
Aku juga bisa mendengar apa yang semua bisa dengar
Aku juga bisa melihat apa yang semua bisa lihat
Dan aku punya mata, telinga, juga hati untuk bisa merasakan segalanya
Melihat dengan mataku
Mendengar dengan telingaku
Dan merasa dengan hatiku
Tapi aku khawatir, aku tidak bisa mengatakan apa yang kurasa padamu
Aku khawatir aku tidak bisa menceritakan apa yang salah tentangku, tentangmu, tentang kalian
Karna seketika itu aku membisu
Dunia seolah membungkamku
Dengan segala pesakitan yang selalu berusaha kugugurkan
Dengan segala rasa yang seharusnya menghilang dari ragaku



yang tersakiti,
A.N.A

Sabtu, 18 Februari 2012

"Memanusiakan Manusia"

   Entah kenapa tiba-tiba pengen nulis dan yang muncul idenya ini. Well, memanusiakan manusia. Itu topik yang aku bahas kemarin sama ayahku di jalan. Dan case buildingnya (duileee) berasal dari pikiranku yang entah tiba-tiba menjelajah kesana-kemari. Maksudnya sih, memperlakukan manusia dengan layak, secara manusiawi gitu.
   Jadi, hari jum'at lalu, pas aku pulang sekolah naik bus -dan selalu seperti itu-, tiba-tiba di terminal ada dua bule cowok cewek yang mau naik bus juga. Nah, ngeliat dua bule yang ngecipris tanya-tanya soal jalan dan kemana tujuan bus itu sama pak kondektur, tiba-tiba muncul pertanyaan kecil yang seharusnya nggak terlalu penting, tapi kalo dipikir-pikir jadinya penting banget (halah).
    Dan, pertanyaannya adalaaaaaaaaah : Apakah dalam benak bule-bule yang berkunjung ke Indonesia tidak pernah terselip 'ih, aangkutan umumnya di Indonesia kok gini banget ya'?
    Ya, sekarang coba posisikan diri readers jadi bule yang lagi jalan-jalan ke Indonesia dan mau naik angkutan umum. Coba bandingkan sama angkutan umum di negara asal anda, misal : Jepang, Belanda, dll. Adakah angkutan umum yang membuat perjalanan anda semakin tidak nyaman? Tentu tidak.
    Pasti angkutan umum di luar negeri  memiliki AC, tempat duduk yang nyaman, dan tidak mengandung bau-bauan yang mengganggu indera pembau anda (kecuali kalo ada yang tiba-tiba buang angin lho yaaa). Nah, sekarang, mari kita tengok angkutan umum di negeri kita tercinta. Bangku kadang berlubang, bau tidak sedap, dan jaminan keamanan yang kurang meyakinkan.
    Bahkan, kalo readers tau, atau tinggal di daerah desa yang kebetulan sama dengan saya, mungkin readers akan sering melihat beberapa buruh pabrik yang diangkut dengan truk dan berdesak-desakan setiap berangkat dan pulang kerja. Miris yah?
    Padahal, truk di sini juga sering digunakan untuk mengangkut ternak seperti: sapi, kerbau, dan kambing. Nah, tambah miris bukan?
    Well, bukannya menjelek-jelekkan apa yang dimiliki negeri sendiri, sih. Tapi, paling tidak, itu bisa menjadi study banding pada diri kita masing-masing. Ya, seandainya pemerintah mampu mengusahakan untuk membenahi bahkan memperbaharui angkutan umum di Indonesia ya, alhamdulillah. Jadi, para pelancong yang datang dari luar negeri juga merasa nyaman jika nantinya mereka ingin travelling sendiri tanpa menyewa jasa travel agent.
    Selain itu, jika angkutan umum di Indonesia sudah merupakan angkutan yang "memanusiakan manusia", siapa juga yang untung? Orang Indonesia sendiri kan? Lebih-lebih, ini bisa menekan tingkat kemacetan yang sekarang sudah tidak hanya terjadi di kota besar, juga menekan jumlah kendaraan bermotor yang membludak di jalanan. :)

Sabtu, 11 Februari 2012

I'm dying just to realize

   Entah apa yang membuatku masih dan tetap saja memikirkanmu. Mengamatimu meski banyak hal yang aku tahu akan membuat remuk hatiku. Mungkin kau juga tahu bahwa aku terus dan terus berusaha berlari darimu. Mungkin kau juga begitu. Terus berlari agar bisa menemukan celah yang membuat bayanganku segera berlalu dari hidupmu.
   Namun, bagiku tetap saja. Semua jalan yang kuambil mengembalikanku pada jalan yang sama. Jalan yang membawaku terus saja kembali padamu. Mungkin hanya kebetulan. Ya, semua ini hanya kebetulan. Namun, apakah masih bisa disebut kebetulan jika hal seperti itu terjadi berkali-kali?
    Entahlah. Orang bilang kita terikat. Meski orang tersebut juga masih tidak bisa menjelaskan kepadaku apa yang membuat kita seperti ini. Aku terikat olehmu. Dan kamupun demikian. Apakah benar seperti itu? Aku juga tak tahu.
   Bahkan, aku tak peduli siapa yang terikat oleh siapa. Dan jika boleh memilih, aku ingin tak peduli dengan semua ini. Tapi tetap saja. Aku tidak bisa tidak peduli. Bahkan pura-pura tak pedulipun aku tak sanggup.
   Entah karena aku tidak tahu, atau memang tidak mau tahu. Yang kutahu hanyalah aku senang bisa melihatmu masih disini. Itu saja.


Penggemarmu setiap waktu,
A.N.A

P.S: maybe i'm not the first one, but, i'll always be the first one, right?

eyes

Eyes.
Actually, aku hampir tidak pernah menatap mata seseorang. Hampir tidak pernah menatapnya terlalu lama. Tidak, bukan karena aku takut. Bukan karena aku pengecut.

Tapi menatap mata seseorang membuatku merasa sangat -sebut saja- grogi. Membuatku merasa terancam. Bukan karena orang tersebut mengerikan atau semacamnya. Tapi karena aku takut dia bisa membaca kisah apa yang ada di dalam mataku. Maaf, jika suatu saat kau dan aku bertemu, aku masih tak berani menatap matamu.

Tapi, rasa takut ini bukan yang tidak beralasan. Rasa takut ini memiliki alasan yang aku mengerti, tapi tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata sekalipun. Hanya itu yang kutahu.
But, someday i.just.wanna.catch.you.in.your.eyes.and.i.want.you.tell.me.everything.with.that.eyes.